Akhir-akhir ini masyarakat kita dilanda
dengan demam batu cincin. Tak jarang dalam keseharian orang-orang disekitar kita
membicarakan topik seputar perbatuan. Mulai dari jenis-jenis batu yang beraneka
ragam, teknik pengecekan keaslian batu, harga batu yang mahalnya di luar nalar,
hingga bahkan mitos kekuatan magis pada batu. Semua topik tersebut mulai akrab
kita dengar dalam keseharian. Batu menjadi budaya dan simbol sosial baru yang
menggeliat di tengah masyarakat.
Dalam fenomena demam batu cincin yang
berkembang sekarang juga sering kita jumpai orang yang menggosok batu secara intens
di antara rutinitas harian mereka. Konon
katanya, menggosok batu secara rutin dapat menjadikan batu menjadi lebih
mengkilap indah. Semakin mengkilapnya batu semakin memiliki nilai jual yang
tinggi.
Berkaca pada fenomena batu cincin
tersebut, saya kemudian terlintas pikiran bahwa untuk medapatkan sebuah batu
yang indah saja memerlukan proses yang tak mudah. Dibutuhkan proses yang panjang
dari batu yang kusam hingga menjadi berkilauan, batu harus di gosok
terus-menerus dengan sangat hati-hati dan dihindarkan dari goresan. Seperti itu
terus yang harus dilakukan hingga batu tersebut benar-benar menjadi berkilau.
Hal tersebut sama halnya jika kita ingin mewujudkan karya-karya besar. Bahwa batu
berkilau tersebut awalnya hanyalah bongkahan batu yang kusam, lalu dengan penuh
ketekunan dan konsistensi batu tersebut di gosok hingga akhirnya menjadi
mengkilat. Ketekunan dan konsistensi dalam proses lah yang menjadikan batu
tersebut berkilau dan mengkilat. Disitulah kesamaannya, dalam mewujudkan karya
besar kita juga harus melalui serangkaian proses berupa tempaan panjang yang
harus dihadapi dengan ketekunan dan konsistensi.
Serangkaian tempaan dalam proses
adalah hal wajib yang harus dilalui setiap orang untuk dapat mewujudakn sebuah
karya besar. Kalau kata pepatah, “There is no elevator to success,you have to
take the stairs”. Ya, tidak ada yang namanya jalan pintas untuk mewujudkan
karya besar, apalagi untuk mereka yang memejamkan mata dan berharap saat membuka
mata sudah sampai pada tujuan – tidak ada. Kalaupun ada yang lebih mudah untuk
mewujudkan karya besar, itu adalah jalan yang lebih baik. Jalan yang merupakan
hasil pelajaran dari proses yang di jalani orang terdahulu. Kita perlu
mengingat bahwa sebuah karya besar tetaplah selalu dimulai dengan berbuat.
Sejauh apapun perjalanan selalu harus dimulai dengan satu langkah kecil.
Yang menjadikan karya menjadi
berharga adalah karena proses yang di laluinya. Seperti halnya batu yang
mengkilap, awal mulanya sama dengan yang lain – hanya bongkahan batu yang
kusam. Yang menjadikan batunya menjadi indah ya karena prosesnya tersebut. Maka
pada prinsipnya semua karya besar awalnya juga merupakan hal yang biasa-biasa
saja, bahkan mugkin suatu hal yang dipandang sebelah mata. Di tangan yang
tepat, dengan ketekunan dan konsistensi hal tersebut dapat diasah menjadi
sebuah karya besar. Kenapa saya menggunakan kata di tangan yang tepat? Karena
dalam memproses suatu hal juga dibutuhkan ilmu, ada tekniknya. Dan lmu tersebut
juga harus di pelajari dalam serangkaian proses mewujudkan karya yang besar
tersebut. Pada akhirnya kuncinya lagi-lagi adalah soal memberikan yang terbaik
dalam proses.
Menutup tulisan ini guru kehidupan
saya pernah berpesan, “bahkan untuk menikmati mie instan kita tetaplah harus
melalui proses.” Bahwa meskipun berjudul “instan”, mie yang kita inginkan tidak
serta merta terhidang di piring. Mie tersebut harus melalui sserangkaian proses
dari memanaskan air, merebus mie, membumbui, hingga akhirnya dapat terhidang di
piring. Maka sedekat apapun tujuan pada akhirnya tetaplah membutuhkan proses
untuk mencapai tujuan tersebut. Maka percayalah bahwa setiap peluh yang
dikeluarkan dalam berproses membawa kita lebih dekat kepada tujuan. Dan jalan
terbaik dalam berproses adalah menikmati setiap detail usaha yang ada
didalamnya.

No comments:
Post a Comment