Page

Saturday, April 18, 2015

Batu Cincin (Tentang Sebuah Proses)


Akhir-akhir ini masyarakat kita dilanda dengan demam batu cincin. Tak jarang dalam keseharian orang-orang disekitar kita membicarakan topik seputar perbatuan. Mulai dari jenis-jenis batu yang beraneka ragam, teknik pengecekan keaslian batu, harga batu yang mahalnya di luar nalar, hingga bahkan mitos kekuatan magis pada batu. Semua topik tersebut mulai akrab kita dengar dalam keseharian. Batu menjadi budaya dan simbol sosial baru yang menggeliat di tengah masyarakat.

Dalam fenomena demam batu cincin yang berkembang sekarang juga sering kita jumpai orang yang menggosok batu secara intens di antara  rutinitas harian mereka. Konon katanya, menggosok batu secara rutin dapat menjadikan batu menjadi lebih mengkilap indah. Semakin mengkilapnya batu semakin memiliki nilai jual yang tinggi.

Berkaca pada fenomena batu cincin tersebut, saya kemudian terlintas pikiran bahwa untuk medapatkan sebuah batu yang indah saja memerlukan proses yang tak mudah. Dibutuhkan proses yang panjang dari batu yang kusam hingga menjadi berkilauan, batu harus di gosok terus-menerus dengan sangat hati-hati dan dihindarkan dari goresan. Seperti itu terus yang harus dilakukan hingga batu tersebut benar-benar menjadi berkilau. Hal tersebut sama halnya jika kita ingin mewujudkan karya-karya besar. Bahwa batu berkilau tersebut awalnya hanyalah bongkahan batu yang kusam, lalu dengan penuh ketekunan dan konsistensi batu tersebut di gosok hingga akhirnya menjadi mengkilat. Ketekunan dan konsistensi dalam proses lah yang menjadikan batu tersebut berkilau dan mengkilat. Disitulah kesamaannya, dalam mewujudkan karya besar kita juga harus melalui serangkaian proses berupa tempaan panjang yang harus dihadapi dengan ketekunan dan konsistensi.

Serangkaian tempaan dalam proses adalah hal wajib yang harus dilalui setiap orang untuk dapat mewujudakn sebuah karya besar. Kalau kata pepatah, “There is no elevator to success,you have to take the stairs”. Ya, tidak ada yang namanya jalan pintas untuk mewujudkan karya besar, apalagi untuk mereka yang memejamkan mata dan berharap saat membuka mata sudah sampai pada tujuan – tidak ada. Kalaupun ada yang lebih mudah untuk mewujudkan karya besar, itu adalah jalan yang lebih baik. Jalan yang merupakan hasil pelajaran dari proses yang di jalani orang terdahulu. Kita perlu mengingat bahwa sebuah karya besar tetaplah selalu dimulai dengan berbuat. Sejauh apapun perjalanan selalu harus dimulai dengan satu langkah kecil.

Yang menjadikan karya menjadi berharga adalah karena proses yang di laluinya. Seperti halnya batu yang mengkilap, awal mulanya sama dengan yang lain – hanya bongkahan batu yang kusam. Yang menjadikan batunya menjadi indah ya karena prosesnya tersebut. Maka pada prinsipnya semua karya besar awalnya juga merupakan hal yang biasa-biasa saja, bahkan mugkin suatu hal yang dipandang sebelah mata. Di tangan yang tepat, dengan ketekunan dan konsistensi hal tersebut dapat diasah menjadi sebuah karya besar. Kenapa saya menggunakan kata di tangan yang tepat? Karena dalam memproses suatu hal juga dibutuhkan ilmu, ada tekniknya. Dan lmu tersebut juga harus di pelajari dalam serangkaian proses mewujudkan karya yang besar tersebut. Pada akhirnya kuncinya lagi-lagi adalah soal memberikan yang terbaik dalam proses.


Menutup tulisan ini guru kehidupan saya pernah berpesan, “bahkan untuk menikmati mie instan kita tetaplah harus melalui proses.” Bahwa meskipun berjudul “instan”, mie yang kita inginkan tidak serta merta terhidang di piring. Mie tersebut harus melalui sserangkaian proses dari memanaskan air, merebus mie, membumbui, hingga akhirnya dapat terhidang di piring. Maka sedekat apapun tujuan pada akhirnya tetaplah membutuhkan proses untuk mencapai tujuan tersebut. Maka percayalah bahwa setiap peluh yang dikeluarkan dalam berproses membawa kita lebih dekat kepada tujuan. Dan jalan terbaik dalam berproses adalah menikmati setiap detail usaha yang ada didalamnya.

No comments:

Post a Comment