Page

Wednesday, April 1, 2015

Belajar Dari Perpisahan


Dalam berjalannya sebuah hubungan pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan perpisahan. Perpisahan adalah sebuah keniscayaan seperti halnya berlalunya waktu. Seperti berlalunya kisah kehidupan kita dalam fase yang berbeda-beda. Rasa-rasanya mungkin baru kemarin kita tertawa dalam jam kosong bersama teman-teman kelas di SMA, ternyata sekarang kita sudah dipakaikan toga wisuda. Barangkali kita sekarang sibuk mencari kerja, mungkin kedepan kita akan tersenyum mengingat kisah perjuangan sambil duduk di kursi pimpinan. Bisa saja sekarang kita sedang mendamba cinta, namun suatu hari tak terasa kita sudah melihat anak-anak yang beranjak dewasa. Begitulah waktu berlalu saja, dan dari sekian banyak waktu yang kita lalui tersebut kita selalu di iringi dengan pisah sambut dari satu fase ke fase lainnya.

Meskipun tidak ada jaminan, jalan terbaik merencanakan kondisi perpisahan adalah dari awal pertemuan. Tak ada yang namanya kebetulan dalam sebuah pertemuan, semua sudah digariskan bahwa pada salah satu titik waktu keduanya memang dipertemukan – Allah lah yang mempertemukan. Bahwa Allah telah mempertemukan untuk suatu alasan, entah untuk memberi pengajaran atau menerima pelajaran. Maka saat kita memulai hubungan pada titik pemahaman tersebut – tak peduli seberapa getir ataupun manisnya waktu yang dilalui bersama – semua akan dibingkai dalam hikmah diujung perpisahan yang baik.

Suka atau tidak kita pasti akan dihadapkan dengan perpisahan, dan kita selalu diberikan kesempatan untuk mengakhirinya dengan kondisi yang baik ataupun buruk. Perpisahan yang baik selalu memberikan kesan melankolik, menimbulkan suasana haru antara pihak yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Menjadikan setiap detail potongan waktu bersama menjadi bermakna. Yang tetiba menjadikan langkah kaki terasa berat untuk beranjak. Sebaliknya, perpisahan yang buruk selalu meninggalkan kekacauan, memuncakkan amarah antara pihak yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Menjadikan setiap diri didalamnya mengutuki setiap waktu yang dikeluarkan untuk bersama. Yang sejak lama menjadikan kaki ingin segera beranjak pergi.

Perpisahan mengajarkan untuk terus bergerak meski dalam keadaan ringan maupun berat. Bahwa kita tidak bisa selamanya berhenti pada suatu fase – meskipun itu nyaman, meskipun itu menyenangkan. Dalam setiap perpisahan selalu ada orang di depan yang akan menyambut kedatangan. Sebuah fase baru yang akan menawarkan pengajaran dan pelajaran. Maka jalan terbaik adalah melalui setiap pisah sambut dalam kehidupan dengan terus memperbaiki diri dan menebar kebaikan.

Begitulah terus pisah sambut akan terjadi, hingga pada akhirnya maut yang akan memisahkan. Lalu kita akan diantarkan kembali pada pertemuan akbar di kampung akhirat, yang pada akhirnya kita akan dihadapkan pada sebuah perpisahan terakhir – surga dan neraka. Maka disinilah kita berdoa semoga kelak tidak dipisahkan dan tetap dikumpulkan dalam surgaNya.

No comments:

Post a Comment