Dalam berjalannya sebuah hubungan
pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan perpisahan. Perpisahan adalah
sebuah keniscayaan seperti halnya berlalunya waktu. Seperti berlalunya kisah
kehidupan kita dalam fase yang berbeda-beda. Rasa-rasanya mungkin baru kemarin
kita tertawa dalam jam kosong bersama teman-teman kelas di SMA, ternyata
sekarang kita sudah dipakaikan toga wisuda. Barangkali kita sekarang sibuk
mencari kerja, mungkin kedepan kita akan tersenyum mengingat kisah perjuangan
sambil duduk di kursi pimpinan. Bisa saja sekarang kita sedang mendamba cinta, namun
suatu hari tak terasa kita sudah melihat anak-anak yang beranjak dewasa. Begitulah
waktu berlalu saja, dan dari sekian banyak waktu yang kita lalui tersebut kita
selalu di iringi dengan pisah sambut dari satu fase ke fase lainnya.
Meskipun tidak ada jaminan, jalan
terbaik merencanakan kondisi perpisahan adalah dari awal pertemuan. Tak ada
yang namanya kebetulan dalam sebuah pertemuan, semua sudah digariskan bahwa
pada salah satu titik waktu keduanya memang dipertemukan – Allah lah yang
mempertemukan. Bahwa Allah telah mempertemukan untuk suatu alasan, entah untuk
memberi pengajaran atau menerima pelajaran. Maka saat kita memulai hubungan pada
titik pemahaman tersebut – tak peduli seberapa getir ataupun manisnya waktu
yang dilalui bersama – semua akan dibingkai dalam hikmah diujung perpisahan
yang baik.
Suka atau tidak kita pasti akan dihadapkan dengan perpisahan, dan kita selalu diberikan kesempatan untuk mengakhirinya dengan kondisi yang baik ataupun buruk. Perpisahan yang baik selalu memberikan kesan melankolik, menimbulkan suasana haru antara pihak yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Menjadikan setiap detail potongan waktu bersama menjadi bermakna. Yang tetiba menjadikan langkah kaki terasa berat untuk beranjak. Sebaliknya, perpisahan yang buruk selalu meninggalkan kekacauan, memuncakkan amarah antara pihak yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Menjadikan setiap diri didalamnya mengutuki setiap waktu yang dikeluarkan untuk bersama. Yang sejak lama menjadikan kaki ingin segera beranjak pergi.
Perpisahan mengajarkan untuk
terus bergerak meski dalam keadaan ringan maupun berat. Bahwa kita tidak bisa
selamanya berhenti pada suatu fase – meskipun itu nyaman, meskipun itu
menyenangkan. Dalam setiap perpisahan selalu ada orang di depan yang akan
menyambut kedatangan. Sebuah fase baru yang akan menawarkan pengajaran dan
pelajaran. Maka jalan terbaik adalah melalui setiap pisah sambut dalam
kehidupan dengan terus memperbaiki diri dan menebar kebaikan.
Begitulah terus pisah sambut akan terjadi, hingga pada
akhirnya maut yang akan memisahkan. Lalu kita akan diantarkan kembali pada
pertemuan akbar di kampung akhirat, yang pada akhirnya kita akan dihadapkan
pada sebuah perpisahan terakhir – surga dan neraka. Maka disinilah kita berdoa
semoga kelak tidak dipisahkan dan tetap dikumpulkan dalam surgaNya.

No comments:
Post a Comment