Page

Tuesday, March 31, 2015

Ketulusan Dalam Berbuat


Adalah Uwais Al-Qarni seorang lelaki asal Yaman. Lelaki yang hidup dimasa Rasulullah namun tak pernah bertemu dengan Sang Rasul, untuk itu dia digolongkan sebagai tabi’in dan bukanlah sahabat. Ya, dia yang meyakini agama yang di bawa Sang Rasul meski tak pernah bertemu secara langsung. Uwais Al-Qarni hanyalah satu dari sekian banyak orang pada masanya yang memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seorang yang memiliki kegiatan berdagang dan mengembala seperti lainnya. Seorang yang bukan terkemuka dan terkenal diantara masyarakat sekitarnya.

Lalu apa yang membuatnya istimewa? Istimewanya adalah, karena Rasul mendapatkan wahyu kemudian mengabarkan kepada para sahabat bahwa sosok yang bernama Uwais Al-Qarni tersebut adalah orang yang namanya mashyur  di langit. Ya, lelaki yang bahkan tak pernah bertemu dengan Rasulullah selama hidupnya tersebut. Bagaimana bisa? Ternyata selama hidupnya dia adalah Lelaki yang sepenuh hati berbakti merawat ibunya, lelaki yang menjadikan islam sebagai nafas barunya, lelaki yang sabar dalam mengahadpi ujian, lelaki yang melalui hari-harinya dengan penuh kebaikan. Dia yang tak peduli walau sepi apresiasi, yang tak menghiraukan walau tak ada mata yang memandang. Maka dia yang dengan ketulusannya akhirnya mendapatkan cinta para penduduk langit.

Begitulah kisah singkat Uwais Al-Qarni yang dengan ketulusannya mampu menggetarkan seantero langit. Kisah tersebut mengajarkan bahwa sikap ketulusan dalam berbuat merupakan hal yang sangat penting. Bahwa ukuran perbuatan baik tidaklah dari banyaknya apresiasi, penghalang untuk berbuat kebaikan bukanlah cemoohan. Maka ketulusan tidak melulu soal sikap yang lembut, ketulusan dapat juga berbentuk ketegasan. Ketulusan adalah konsistensi berbuat kebaikan dalam segala keadaan.

Kita adalah aktor dalam panggung kehidupan. Kita lah pelaku yang menjalani alur ceritanya. Orang disekitar kita adalah penonton, dan yang namanya penonton pekerjaannya adalah mengomentari. Saat ceritanya bagus mereka memuji, saat ceritanya sedang tak bagus mereka mencaci. Begitu terus sampai cerita selesai, hingga tanpa disadari mereka tak memperoleh apapun dari komentarnya melainkan membuang energi. Maka disini kita dapat menarik kesimpulan bahwa kita hanya perlu fokus, tugas kita adalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. The show must go on.

No comments:

Post a Comment