Kamu dan aku tentunya sudah tahu
bahwa semangat memanglah fluktuatif. Kadang kita begitu membara, berapi-api,
berkobar-kobar dalam jiwa seolah tak ada yang pernah dapat menghentikan kita.
Tapi kadang kita menjadi beku, dingin tak berdaya, diam tak berupaya seolah
dunia tak adil karena begitu kejamnya kepada kita.
Jika aku boleh menganalogi,
bagiku semangat itu laksana akar. Dia terpendam tapi menopang, dia fondasi yang
menguatkan. Semakin kuatnya akar, semakin mengokohkan batang. Kau boleh setuju
ataupun tidak, aku hanya ingin berpesan padamu yang kian melesu:
Pastikan semangatmu mengakar di
hati, bukan membumbung di langit hati ataupun tersimpan di palung hati. Kala
badai menghadang, perkuatlah akar semangat agar pohon upaya tetap bisa
menjulang kokoh. Apapun yang terjadi tetaplah bersabar, yakinlah pohon upaya
akan membuahkan hasil termanis di penghujung kisah perjuangan.
Tersenyumlah, berikan senyuman
yang termanis. Semanis kisah perjuangan yang tak lekang hanya oleh kecapan.

No comments:
Post a Comment