Page

Tuesday, March 24, 2015

Pengendali Waktu


Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, tentunya anda mengenal dengan Sapardi Djoko Damono bukan? Seorang pujangga dengan banyak karya. Barangkali jika anda masih samar dengan sosoknya, mungkin puisi berikut dapat mencerahkan ingatan anda.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Bagaimana, sudah ingat? Ya, puisi tersebut adalah karangannya. Puisi berjudul “Aku Ingin” tersebut dibuat tahun 1989 dan terus hidup hingga sekarang, tak pernah padam memberikan pemaknaan cinta yang sederhana – Puisi tersebut tetap melekat di hati para pecinta. Namun saya sekarang sedang tidak akan membahas tentang puisinya tersebut ataupun karya yang lainnya, saya ingin membahas sedikit tentang semangat Sapardi Djoko Damono dalam berkarya.

Tahukah anda? Pada tahun 2015 Sapardi Djoko Damono genap menginjakkan usianya yang ke-75. Dan tahukah anda? Dalam usianya yang lanjut tersebut dia masih mengeluarkan karya. Dia membuat novel berjudul “Trilogi Soekram”, tidak tanggung-tanggung – karyanya berbentuk trilogi!. Barangkali dia berusia 75, tapi menurut saya dia berkarya laksana pemuda berusia 25. Maka pantas kiranya sosok seperti Sapardi Djoko Damono – saya juluki sebagai sang pengendali waktu.

Sang pengendali waktu yang saya maksudkan adalah mereka yang melalui setiap satuan waktu dengan berkarya, mereka yang dengan karyanya menjadi bagian dalam menggerakkan zaman. Jika yang terbayang dalam benak anda adalah mereka yang mampu menghentikan ataupun memutarbalikkan waktu, entahlah – yang bisa melakukan itu menurut saya hanya sang maha pengendali waktu, Allah SWT.

Berbicara tentang para pengendali waktu, kita bisa belajar dari mereka yang sudah sukses dengan karyanya. Mungkin dalam hal ini kita bisa mengambil contoh suksesnya perusahaan IT yang meliputi Google, Apple, Microsoft, dan HP. Perlu anda ketahui, pendiri perusahaan kelas dunia tersebut merintis usahanya dengan berkantorkan sebuah garasi. Menurut saya para pengendali waktu memiliki pola yang sama, mereka memulai karya dengan melakukan. Think big start small, untuk mencapai sebuah tujuan besar selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

Memulai sesuatu bisa jadi sama halnya dengan mengayuh sepeda, jika kita berhenti mengayuh kita akan terjatuh. Butuh sebuah konsistensi dalam berbuat – dan tentunya sebuah proses yang disebut dengan belajar. Layaknya anak kecil yang mencoba mahir bersepeda, mereka bisa karena terbiasa, mereka terbiasa karena pembiasaan. Maka tak penting berapa kali kita gagal, yang penting adalah berapa kali kita bangkit. Begitulah terus yang akan pengendali waktu lakukan, sampai mereka mencapai tujuan.
Kita memiliki keterbatasan waktu dalam hidup. Sungguh waktu akan terus berputar, tak akan terpengaruh oleh apapun yang dilaluinya. Celakalah mereka yang berdiam, mereka akan digilas oleh waktu. Merugilah mereka yang terlena, mereka akan hanyut dalam arus waktu. Dan beruntunglah mereka yang berkarya, merekalah yang terpilih menjadi pengendali waktu.
Di akhir tulisan ini mari tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkah kita menjadi pengendali waktu? Jika jawabannya sudah, teruslah berkarya! Jika jawabannya belum, mari mulai berkarya!.

No comments:

Post a Comment