Saya ingin memulai tulisan ini
dengan sebuah pertanyaan, tentunya anda mengenal dengan Sapardi Djoko Damono
bukan? Seorang pujangga dengan banyak karya. Barangkali jika anda masih samar
dengan sosoknya, mungkin puisi berikut dapat mencerahkan ingatan anda.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang
menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada
Bagaimana, sudah ingat? Ya, puisi
tersebut adalah karangannya. Puisi berjudul “Aku Ingin” tersebut dibuat tahun
1989 dan terus hidup hingga sekarang, tak pernah padam memberikan pemaknaan
cinta yang sederhana – Puisi tersebut tetap melekat di hati para pecinta. Namun
saya sekarang sedang tidak akan membahas tentang puisinya tersebut ataupun
karya yang lainnya, saya ingin membahas sedikit tentang semangat Sapardi Djoko
Damono dalam berkarya.
Tahukah anda? Pada tahun 2015
Sapardi Djoko Damono genap menginjakkan usianya yang ke-75. Dan tahukah anda?
Dalam usianya yang lanjut tersebut dia masih mengeluarkan karya. Dia membuat
novel berjudul “Trilogi Soekram”, tidak tanggung-tanggung – karyanya berbentuk
trilogi!. Barangkali dia berusia 75, tapi menurut saya dia berkarya laksana pemuda
berusia 25. Maka pantas kiranya sosok seperti Sapardi Djoko Damono – saya juluki
sebagai sang pengendali waktu.
Sang pengendali waktu yang saya
maksudkan adalah mereka yang melalui setiap satuan waktu dengan berkarya,
mereka yang dengan karyanya menjadi bagian dalam menggerakkan zaman. Jika yang
terbayang dalam benak anda adalah mereka yang mampu menghentikan ataupun
memutarbalikkan waktu, entahlah – yang bisa melakukan itu menurut saya hanya
sang maha pengendali waktu, Allah SWT.
Berbicara tentang para pengendali
waktu, kita bisa belajar dari mereka yang sudah sukses dengan karyanya. Mungkin
dalam hal ini kita bisa mengambil contoh suksesnya perusahaan IT yang meliputi Google,
Apple, Microsoft, dan HP. Perlu anda ketahui, pendiri perusahaan kelas dunia
tersebut merintis usahanya dengan berkantorkan sebuah garasi. Menurut saya para
pengendali waktu memiliki pola yang sama, mereka memulai karya dengan melakukan.
Think big start small, untuk mencapai sebuah tujuan besar selalu dimulai dengan
satu langkah kecil.
Memulai sesuatu bisa jadi sama
halnya dengan mengayuh sepeda, jika kita berhenti mengayuh kita akan terjatuh.
Butuh sebuah konsistensi dalam berbuat – dan tentunya sebuah proses yang
disebut dengan belajar. Layaknya anak kecil yang mencoba mahir bersepeda,
mereka bisa karena terbiasa, mereka terbiasa karena pembiasaan. Maka tak
penting berapa kali kita gagal, yang penting adalah berapa kali kita bangkit.
Begitulah terus yang akan pengendali waktu lakukan, sampai mereka mencapai tujuan.
Kita memiliki keterbatasan waktu dalam hidup. Sungguh waktu akan terus berputar, tak akan terpengaruh oleh apapun yang dilaluinya. Celakalah mereka yang berdiam, mereka akan digilas oleh waktu. Merugilah mereka yang terlena, mereka akan hanyut dalam arus waktu. Dan beruntunglah mereka yang berkarya, merekalah yang terpilih menjadi pengendali waktu.Di akhir tulisan ini mari tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkah kita menjadi pengendali waktu? Jika jawabannya sudah, teruslah berkarya! Jika jawabannya belum, mari mulai berkarya!.

No comments:
Post a Comment