“Succes is the ability to go
from failure to failure without losing enthusiasm”, begitulah seorang
Winston Churchill memaknai sebuah kesuksesan. Ada hal yang menarik dari
pemaknaannya tentang kesuksesan tersebut, bahwa dia menggambarkan kesuksesan
tidaklah dalam suatu kondisi pencapaian tertentu melainkan sebagai kemampuan berproses.
Begitulah setidaknya yang saya tangkap bahwa pemaknaan tersebut memanglah tidak
menitikberatkan pada apapun yang telah kita capai, melainkan lebih kepada ability
yang kita miliki – sebuah kompetensi dalam berproses.
Berbicara tentang sebuah
kompetensi dalam berproses, saya pernah mendapatkan kisah berkaitan dengan hal
tersebut – beginilah kisahnya.
Dalam sebuah got di salah satu komplek
perumahan terdapat dua ekor tikus yang sedang mencari makan. Dalam proses
pencariannya mereka tetiba berhenti, mereka menemukan sepotong roti keju.
Sayangnya roti keju tersebut terhalang oleh jeruji besi, tanpa pikir panjang
mereka mencoba sekuat tenaga untuk menghancurkan jeruji tersebut dengan
gigi-gigi mereka yang tajam. Sayangnya usaha mereka tak berdampak apapun pada
jeruji tersebut.
Karena kelelahan merekapun
beristirahat dan salah satu tikus memulai perbincangan – dengan bahasa tikus
tentunya. Tikus tersebut berkata, “Jeruji tersebut terlalu kuat dan tak
mungkin kita hancurkan, kita harus mencari cara lain!”. Tikus yang satu
menanggapi, “Aku tak akan menyerah, akan kuhancurkan jeruji itu. Kalau tidak
sekarang, kapan lagi kita dapat makan roti keju. Kamu saja yang lemah!”.
Tanpa memperdulikan ejekan temannya,
tikus tersebut memilih mundur dan mencari jalan lain menuju roti keju tersebut. Akhirnya
dengan sedikit upaya tambahan tikus tersebut menemukan jalan dan sampai pada
lokasi roti keju tersebut. Dan diapun mendapati temannya di balik jeruji besi terkapar
kelelahan dan kesakitan karena patah giginya.
Dalam kisah tersebut kita tidak
menemukan mental orang gagal diantara keduanya, tidak ada yang menyerah sebelum
berusaha – tidak ada. Karena memang cerita tersebut tidak menceritakan tentang
mental gagal, cerita tersebut menjelaskan nilai moral bahwa kegigihan saja tidak cukup dalam
mencapai sebuah kesuksesan. Bahwa kegigihan tersebut bukanlah satu-satunya
kompetensi dalam berproses yang dimaksudkan dalam pemaknaan kesuksesan diatas.
Dalam berproses, selain kegigihan
diperlukan adanya kecerdasan dan keikhlasan. Kecerdasan penting dalam melihat
peluang , menemukan momentum, dan mengambil keputusan. Sedangkan keikhlasan
memberikan kelapangan hati dalam sempitnya peluang, menumbuhkan keyakinan. Maka
ketika ketiga kompetensi tersebut dikombinasikan akan menjadi sebuah perpaduan apik
yang disebut dengan kesuksesan. Sebuah kegigihan menghadapi kegagalan,
kecerdasan dalam bangkit mencari jalan, dan keikhlasan yang menumbuhkan
antusiasme.
Maka disinilah kita mendapatkan konsep bahwa kesuksesan
merupakan perpaduan antara kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Menutup
tulisan ini, guru kehidupan saya pernah berpesan bahwa ada pembeda yang jelas
antara orang yang sukses dengan yang gagal – “orang sukses mencari jalan, orang
gagal mencari alasan”.
.jpg)
No comments:
Post a Comment