Page

Friday, March 27, 2015

Kompetensi Meraih Kesuksesan


“Succes is the ability to go from failure to failure without losing enthusiasm”, begitulah seorang Winston Churchill memaknai sebuah kesuksesan. Ada hal yang menarik dari pemaknaannya tentang kesuksesan tersebut, bahwa dia menggambarkan kesuksesan tidaklah dalam suatu kondisi pencapaian tertentu melainkan sebagai kemampuan berproses. Begitulah setidaknya yang saya tangkap bahwa pemaknaan tersebut memanglah tidak menitikberatkan pada apapun yang telah kita capai, melainkan lebih kepada ability yang kita miliki – sebuah kompetensi  dalam berproses.

Berbicara tentang sebuah kompetensi dalam berproses, saya pernah mendapatkan kisah berkaitan dengan hal tersebut – beginilah kisahnya.

Dalam sebuah got di salah satu komplek perumahan terdapat dua ekor tikus yang sedang mencari makan. Dalam proses pencariannya mereka tetiba berhenti, mereka menemukan sepotong roti keju. Sayangnya roti keju tersebut terhalang oleh jeruji besi, tanpa pikir panjang mereka mencoba sekuat tenaga untuk menghancurkan jeruji tersebut dengan gigi-gigi mereka yang tajam. Sayangnya usaha mereka tak berdampak apapun pada jeruji tersebut.

Karena kelelahan merekapun beristirahat dan salah satu tikus memulai perbincangan – dengan bahasa tikus tentunya. Tikus tersebut berkata, “Jeruji tersebut terlalu kuat dan tak mungkin kita hancurkan, kita harus mencari cara lain!”. Tikus yang satu menanggapi, “Aku tak akan menyerah, akan kuhancurkan jeruji itu. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita dapat makan roti keju. Kamu saja yang lemah!”.

Tanpa memperdulikan ejekan temannya, tikus tersebut memilih mundur dan mencari  jalan lain menuju roti keju tersebut. Akhirnya dengan sedikit upaya tambahan tikus tersebut menemukan jalan dan sampai pada lokasi roti keju tersebut. Dan diapun mendapati temannya di balik jeruji besi terkapar kelelahan dan kesakitan karena patah giginya.

Dalam kisah tersebut kita tidak menemukan mental orang gagal diantara keduanya, tidak ada yang menyerah sebelum berusaha – tidak ada. Karena memang cerita tersebut tidak menceritakan tentang mental gagal, cerita tersebut menjelaskan nilai moral  bahwa kegigihan saja tidak cukup dalam mencapai sebuah kesuksesan. Bahwa kegigihan tersebut bukanlah satu-satunya kompetensi dalam berproses yang dimaksudkan dalam pemaknaan kesuksesan diatas.

Dalam berproses, selain kegigihan diperlukan adanya kecerdasan dan keikhlasan. Kecerdasan penting dalam melihat peluang , menemukan momentum, dan mengambil keputusan. Sedangkan keikhlasan memberikan kelapangan hati dalam sempitnya peluang, menumbuhkan keyakinan. Maka ketika ketiga kompetensi tersebut dikombinasikan akan menjadi sebuah perpaduan apik yang disebut dengan kesuksesan. Sebuah kegigihan menghadapi kegagalan, kecerdasan dalam bangkit mencari jalan, dan keikhlasan yang menumbuhkan antusiasme.

Maka disinilah kita mendapatkan konsep bahwa kesuksesan merupakan perpaduan antara kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Menutup tulisan ini, guru kehidupan saya pernah berpesan bahwa ada pembeda yang jelas antara orang yang sukses dengan yang gagal – “orang sukses mencari jalan, orang gagal mencari alasan”. 

No comments:

Post a Comment