“Terpujilah Wahai Engkau Bapak
Ibu Guru, Jasamu akan selalu ku kenang dalam sanubariku”. Begitulah penggalan
lagu yang selalu mengingatkan saya pada momen acara wisuda, Sungguh momen yang bahagia
tiada tara. Sebuah momen yang mengakumulasi rasa haru seluruh kenangan romantika perjuangan
menuntut ilmu.
Wisuda juga merupakan sebuah
momen yang menyimbolkan purna tugas guru kepada murid. Meskipun begitu, saya
percaya bahwa tidaklah ada yang namanya mantan guru, karena ilmu yang kita
terima tak akan pernah dapat kita kembalikan – sekali pernah menjadi guru,
seumur hidup tetap akan menjadi guru. Secara tak sadar kita tumbuh bersama ilmu
yang mereka berikan. Merekalah yang mengantarkan kita ke gerbang menuju tempat
dimana kita berdiri sekarang. Maka tak berlebihan jika mereka disebut sebagai
pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka yang tak mendapatkan imbalan apapun atas
segala pencapaian kita, kecuali pahala tentunya.
Guru tidaklah bisa diartikan
secara sempit sebagai mereka yang yang melakukan pengajaran di dalam kelas pada
sekolah formal. Semua yang memberikan ilmu adalah guru. Kita selalu bisa
belajar kepada orang yang ada di sekitar kita, banyak hikmah yang mungkin bisa kita
ambil . Saya mempunyai sebutan khusus bagi mereka yang memberikan ilmu dan
hikmah tersebut sebagai guru kehidupan.
Ketika kita sudah menerima ilmu
bukan berarti tanggung jawab kita selesai. Tugas kita selanjutnya adalah
meneruskan ilmu yang kita terima, mengajarkannya. Menyalurkan ilmu adalah
sebuah tanggung jawab sebagai bentuk balas jasa kepada para guru kita. Tugas
kita adalah meneruskan estafet ilmu sebagai guru kehidupan.
Perumpamaan ilmu adalah seperti air yang jika kita
membendungnya akan menyebabkannya keruh dan menjadi sumber penyakit, sedangkan
jika kita mengalirkannya akan tetap menjadi jernih dan memberikan manfaat. Begitulah
mengapa kita harus senantiasa menyalurkan ilmu. Mari kita menjadi guru
kehidupan terbaik, yang mengalirkan segala kebaikan ilmu menuju lautan manfaat.

No comments:
Post a Comment